One Arsène Wenger, there’s only one Arsène Wenger…
Mereka meragukan Aaron Ramsey, musim ini Ramsey pemain terbaik Premier League.
Mereka meragukan duet Per Mertesacker dan Koscielny, musim ini
duet tersebut menjadi tulang punggung pertahanan terbaik Premier League.
Mereka meragukan Olivier Giroud, musim ini Giroud begitu vital
dalam permainan Arsenal (10 goal + 5 assist) sehingga semua fans Arsenal
kuatir ia cedera.
Mereka meragukan dan meremehkan Bendtner, malam ini ia menjawab
dengan satu gol cepat dan secara keseluruhan penampilan yang di atas
rata-rata.
Mereka meragukan Arsenal mampu menjadi juara musim ini walaupun
Arsenal sedang memimpin klasemen 4 poin di atas peringkat kedua dan
hanya menyisakan 5 pertandingan sisa di paruh musim 2013/2014 ini…
Keraguan demi keraguan dijawab tim Arsène Wenger musim ini. Pertama
Southampton yang saat tandang berhasil menang atas Liverpool dan seri
melawan United, tumbang oleh Arsenal 2-0. Lalu Cardiff City yang di
kandangnya berhasil menang atas City dan seri lawan United, takluk di
kandang oleh Arsenal 3-0.
Terakhir Hull City yang menumbangkan Liverpool
3-1, dihabisi Arsenal 2-0 dengan cukup nyaman. Dan lawan berikutnya
adalah Everton yang kemarin berhasil menang atas tim mediocre United.
Apakah Arsenal akan kembali menang akhir pekan ini? Apakah kemenangan
atas Everton akan cukup menjawab keraguan para “pakar” sepakbola yang
mengisi kolom tabloid dan talkshow di acara bola? Mungkin tidak akan
cukup sampai Arsenal memegang trofi di bulan Mei nanti. Tapi kita tak
peduli, karena kita lebih tahu daripada mereka. Kita mengikuti tim
Arsenal ini sejak belasan atau bahkan puluhan tahun silam, minggu per
minggu. Kita tahu persis apa bedanya tim bermental juara dengan tim yang
miskin kematangan. Kita tahu persis saat Arsenal bertransformasi
menjadi tim kandidat juara liga.
AKB vs WOB
Dua musim terakhir adalah kulminasi keraguan terhadap Arsène Wenger
dari camp fans Arsenal sendiri. Kepergian Fabregas dan Nasri di awal
musim 2011/2012 serta Van Persie dan Song di awal musim 2012/2013
membuat Arsenal mengawali musim dengan sangat buruk dan mesti berjuang
keras untuk lolos ke kualifikasi Liga Champions di akhir-akhir musim.
Walaupun mereka akhirnya berhasil, fans sudah terlanjur kecewa terutama
dengan kebijakan klub untuk menjual pemain terbaiknya dan tidak
menggantinya dengan pemain yang setara. Belum lagi adanya AST (Arsenal
Supporters’ Trust) lewat juru bicaranya Tim Payton yang gemar mengkritik
klub di muka publik. Menuduh klub menimbun uang 70-100 juta pounds dan
menolak membelanjakannya. Fans Arsenal terbelah dua bak Laut Merah
dibelah Nabi Musa. Ada AKB (Arsene Knows Brigade) yang percaya penuh
pada Arsène Wenger dan WOB (Wenger Out Brigade) yang menganggap Wenger
telah out of touch, keras kepala dengan idealismenya dan
menolak membelanjakan uang yang disediakan klub untuknya (asumsi
mereka). Bahwa kenyataan 8 tahun tanpa trofi adalah indikasi Wenger
sudah tak pantas lagi memimpin klub ini. Kelompok WOB ini makin lama
makin keras suaranya di publik (dipimpin oleh Piers Morgan yang jarang
masuk akal), sedangkan kelompok AKB semakin lama semakin sedikit atau
memilih untuk diam. Mereka menanti kesempatan, the second coming of Messiah,
karena keyakinan total mereka terhadap Lord Wenger yang telah
memberikan gelar demi gelar dan ciri khas baru pada Arsenal semenjak
kedatangannya serta rekor Invincible yang tak akan dipecahkan lagi oleh tim manapun di masa depan.
Awal musim ini, dengan satu tindakan Wenger menghapus tuduhan bahwa ia menolak spending big. Dua tindakan tepatnya. Yang pertama adalah bid
kontroversial 40 juta + 1 pounds terhadap Luis Suarez yang gagal, dan
yang kedua tentunya pembelian spektakuler Mesut Özil dari Real Madrid
senilai 42,5 juta pounds, rekor pembelian termahal kedua di liga Inggris
setelah pembelian Fernando Torres oleh Chelsea. Jika WOB (jika masih
ada) merasa pembelian Özil adalah karena tekanan keras dari mereka di
awal musim ini, asumsi tersebut salah besar. Wenger memang keras kepala,
namun ia tahu persis apa yang ia lakukan. Ia punya budget terbatas,
sehingga ia selalu mengatakan hanya akan membeli top, top player yang
memang pantas dibeli dengan nilai tinggi. Dan kesempatan musim ini tiba
ironisnya dibantu oleh penjualan Bale ke Madrid. Kejadian di luar
kewajaran yang memungkinkan Madrid membuang pemain terbaik kedua mereka
ke Arsenal.
Wenger memang keras kepala, namun ia tahu persis apa yang ia lakukan.
Dan bila ada fans Arsenal yang masih berhalusinasi bahwa pemain
sekelas Özil mau pindah ke Arsenal tanpa adanya Wenger, maka wawancara
terakhir Özil di Majalah FourFourTwo edisi Januari 2014 membuyarkan
ilusi tersebut. Ia mengatakan keputusannya untuk pindah ke Arsenal dari
klub terkaya dunia didasari oleh trust yang ia rasakan dari
Wenger, bukan karena adanya pemain-pemain Jerman di klub ini. Dan jelas
bukan karena uang (PSG menawarkan gaji lebih tinggi). Wenger telah
memantaunya sejak ia di Werder Bremen dan mencoba membelinya saat itu
namun kalah oleh pesona klub sekelas Madrid. Özil kemudian cukup diyakinkan dengan sebuah panggilan telepon
dari Wenger. Pindah ke sebuah klub di liga yang asing baginya, di usia
di mana ia mungkin akan menghabiskan usia puncaknya, bukanlah sebuah
tindakan yang mudah. Perlu keyakinan penuh kepada manager barunya untuk
mengambil keputusan tersebut.
“Somehow this telephone call just flicked a switch in me,” Ozil told Die Welt. “I thought: ‘What he is telling me is what I have missed at Real: transparency, trust, respect. He told me exactly how he sees me [as a player], how he wants to use me, what he expects from me and what he hopes I will contribute.”
Sebesar-besarnya Arsenal di Inggris, di dataran Eropa Arsenal belum
dilihat sekelas dengan Real Madrid, Barcelona dan Bayern Muenchen,
raksasa-raksasa Eropa saat ini. Untuk Özil pindah dari Madrid ke
Arsenal, klub yang belum pernah memenangkan Liga Champions ini, umumnya
akan dianggap langkah mundur. Namun kepercayaannya terhadap Wenger yang
dirasanya mampu mengembangkannya ke level yang lebih tinggi sebagaimana
yang ia lakukan terhadap Henry, Pires dan Vieira (Bergkamp pengecualian
karena tanpa perlu disentuh juga sudah level God-like) membuat Özil
yakin ini adalah langkah maju bagi karier pribadinya. Bukan tidak
mungkin dalam satu dua tahun ke depan Özil bahkan mampu bersaing dengan
Messi dan Ronaldo untuk Ballon d’Or, sesuatu yang diyakini oleh Wenger.
Kisah lainnya adalah Aaron Ramsey. Ramsey di usia 17 tahun adalah
pemain yang diperebutkan banyak klub elit Inggris di antaranya
Manchester United, Everton dan Arsenal. Bahkan United sempat memposting
berita bahwa mereka telah mendapatkan Ramsey di website resminya
sebelum kemudian Arsenal “menculiknya”. Lagi-lagi perlakuan khusus dan
penjelasan visi Wenger terhadapnya dan orang tuanya (yang menerbangkannya dengan pesawat jet pribadi ke Swiss
untuk bertemu langsung) akhirnya meyakinkan Ramsey untuk menolak
tawaran United dan memilih bergabung dengan Arsenal. Terbukti hal itu
adalah pilihan tepat baginya. Lima tahun kemudian ia bermain dengan
pemain sekelas Mesut Özil, Santi Cazorla, Tomas Rosicky. Ia bisa saja
melakukan kesalahan sehingga saat ini bermain dengan pemain seperti
Anderson, Fellaini, Cleverley dan terpaut 12 poin dari pemimpin
klasemen.
Kedua kisah di atas adalah bukti bagaimana manager masih menjadi yang
paling penting dalam sebuah klub sepakbola. Manchester United yang
menjadi juara liga musim lalu mendadak menjadi tim mediocre ketika
ditinggal manager hampir tiga dekade-nya. Saat klub terpuruk maka
managerlah yang akan dipecat. Dengan kesimpulan ini maka eksistensi WOB
menjadi tidak relevan lagi selama Arsenal berada di peringkat pertama,
bermain dengan baik dan memimpin dalam pengejaran gelar liga Inggris.
Untuk sementara ini mari kita semua berperan sebagai AKB. Percayakan
pada Wenger karena tim ini memang miliknya, dibangun olehnya dan sejauh
ini telah berhasil menjawab keraguan demi keraguan baik dari fans
sendiri maupun dari pihak luar. Keraguan itu lenyap di Emirates Stadium
kemarin, seluruh fans menyanyikan chant ‘One Arsène Wenger’ saat Arsenal
tampil begitu dominan melawan Hull City, pemandangan yang kontras
dengan atmosfer di stadion di hari pertama musim ini.
…eksistensi WOB menjadi tidak relevan lagi selama Arsenal berada di peringkat pertama, bermain dengan baik dan memimpin dalam pengejaran gelar liga Inggris.
Cukuplah pihak luar yang meragukan Arsenal, meragukan kita. Saat ini
hendaknya semua fans berdiri di belakang tim, di belakang manager, dan
meyakini “we can win the league.” Video dari ArsenalFan TV (yang berisi wawancara-wawancara dengan fans usai pertandingan) ini pas untuk menutup bagian ini: Fans Apologises to Arsene Wenger.
Bergkamp mengatakan di biografinya bahwa filosofi Arsenal bukan hanya bermain indah, namun menang dengan bermain indah. Menang menjadi targetnya dan bermain indah adalah pendekatannya, caranya. Di awal babak pertama dan kedua saat melawan Hull City, Arsenal tampil luar biasa dengan passing-passing yang cepat dan akurat. Pergerakan pemain yang cepat membuat Hull City kebingungan untuk mengikutinya. Sayang saja Bendtner bukan striker reguler sehingga ia hanya dapat mencetak satu gol. Namun gol yang dicetaknya tidak kalah cantiknya dengan gol-gol Arsenal musim ini. Berawal dari pertukaran bola yang cepat antara Ramsey, Rosicky dan Jenkinson di sisi kanan, crossing akurat Jenkinson disundul oleh Bendtner secara terarah, keras menuju gawang. Gol di menit awal babak pertama tersebut kemudian ditambah dengan gol di menit kedua babak kedua yang juga hasil ping-pong bola yang cepat di sisi yang berlawanan. Kali ini aktornya adalah Monreal, Ramsey dan Özil.
Ramsey bergerak bebas dari kiri ke kanan ke tengah, ia ada di mana-mana! Ditopang oleh trio Rosicky, Cazorla dan Özil yang terus mengalirkan bola dengan cepat, Ramsey berkali-kali masuk di posisi yang berbahaya. Total 6 tembakan ia lakukan di pertandingan ini (terbanyak dari semua pemain di pertandingan ini), dengan satu tembakan keras yang membutuhkan penyelamatan cemerlang dari kiper Hull City. Ia mengembalikan assist Özil di Cardiff City dengan assist yang tak kalah cantiknya lewat reversed pass di depan kotak penalti lawan. Özil menyelesaikannya dengan kalem. Dua gol ini tidak mengilustrasikan dominasi Arsenal yang begitu mutlak di pertandingan ini, namun Arsenal bisa berpuas diri karena pencapaian ini dilakukan dengan rotasi pemain yang melebihi batas Wenger pada umumnya.
Rotasi yang Berhasil
Wenger melakukan pergantian lima pemain di starting line up dari pertandingan sebelumnya. Masuk Monreal, Jenkinson, Flamini, Rosicky dan Bendtner menggantikan Gibbs, Sagna, Arteta, Wilshere dan Giroud. Kelima pemain ini bisa diprediksi akan digunakan kembali saat melawan Everton. Kecuali Jenkinson dan Bendtner, para pemain pengganti ini sudah sering dipakai di beberapa kesempatan musim ini sehingga rotasi pemain ini tidak merusak keseimbangan tim. Walcott belum dipasang sejak awal karena masih sakit (bukan cedera) dalam beberapa hari terakhir. Ia tidak mengikuti sesi latihan penuh di hari Senin. Mungkin untuk Everton pun ia belum dapat dipasang di awal pertandingan.
Kelima pemain “pengganti” ini bermain dengan sangat baik. Manfaat kebugaran fisik sangat terlihat. Monreal dan Jenkinson bekerja tanpa lelah naik turun menyusuri garis pinggir lapangan. Monreal bahkan tampil cemerlang, siap berikan kompetisi yang berat terhadap Gibbs. Jenkinson tampil lebih baik daripada penampilan-penampilan sebelumnya dan crossing akuratnya kembali menemukan tempat. Flamini seperti biasa tampil bak jenderal lapangan. Ia juga dapat berkolaborasi dengan baik bersama Arteta di 15 menit terakhir babak kedua. Rosicky seperti biasa membuat publik lupa terhadap usianya. Interception, tracking back, tackling dilakukannya bak pemain muda yang tak takut dengan cedera. Dan terakhir Bendtner seperti yang telah diulas di atas, menjawab keraguan dengan satu gol penting dan penampilan di depan yang lumayan. Tidak se-dominan Giroud namun cukup untuk merepotkan tim sekelas Hull City. Ia bahkan sempat hampir memberikan assist kepada Özil lewat crossingnya yang seakan merekonstruksi crossing Jenkinson kepadanya.
Hasil Klub Lain
Prediksi hasil-hasil klub lain di bulan Desember yang saya tulis kemarin, hampir akurat. Kecuali hasil MU melawan Everton, tim-tim besar lainnya menang. MU tampil lebih buruk dari dugaan, Moyes bahkan tak dapat mencuri satu point pun dari klub lamanya. Hasil ini menjadi legitimasi bagi era baru Everton di bawah Roberto Martinez, bahwa pemilihan ia menjadi manager Everton adalah pilihan tepat board klub tersebut setelah kepergian pahit Moyes. MU yang sekarang terpaut 12 poin dari Arsenal sulit dianggap sebagai kompetitor serius, kecuali jika mereka berhasil meraih 5 kemenangan berturut-turut di bulan Desember.
Chelsea dan City menang, namun tidak meyakinkan. Chelsea nyaris seri di kandang Sunderland. Stoke City mungkin dapat memberikan perlawanan yang lebih berarti akhir pekan ini. Manchester City sendiri memberikan dua gol di akhir-akhir pertandingan. Soal penyerangan City memang yang terbaik untuk saat ini (mencetak 40 gol) namun masih banyak PR di lini pertahanan mereka, terutama saat pertandingan tandang.
Empat gol Suarez lawan Norwich City membuktikan dirinya adalah striker terbaik Premier League dan menjelaskan mengapa Arsenal sangat menginginkannya di awal musim ini. Gol dari tembakan jarak jauh, jarak dekat, aksi individu, dan tendangan bebas menjadikan dirinya sebagai striker yang komplet sekelas Henry. Arsenal telah lama tidak memiliki striker seperti ini pasca Henry, yang punya kecepatan, teknik, kekerasan dan keakuratan tembakan. Liverpool tak akan menjual aset berharganya di Januari nanti namun juga akan sulit menahannya di akhir musim nanti. Bisa tidaknya Liverpool finish di posisi keempat akan tergantung penampilan Suarez musim ini. Dengan penampilan Suarez yang seperti ini, rasanya Liverpool mampu mencuri poin dari Tottenham, Chelsea dan City. Prediksi Desember tersebut sepertinya mesti diralat segera.
Mitos “Harus Mengalahkan Klub Besar”
Salah satu argumen yang beredar di pundit bola mengapa Arsenal belum pantas dianggap sebagai penantang juara utama adalah karena Arsenal belum mengalahkan klub besar seperti Manchester United, Manchester City dan Chelsea. Memang pertandingan antara tim besar adalah pertandingan “six pointer”, yang artinya selisih antara menang dan kalah adalah 6 poin. Contohnya saat Arsenal melawan MU beberapa pekan lalu. Saat itu selisih poin Arsenal dan MU adalah 8 poin. Jika Arsenal menang, selisih poin menjadi 11 dan jika Arsenal kalah selisih poin menjadi 5. Jarak 11 dan 5 adalah 6 poin. Maka dengan hasil kalah di pertandingan tersebut, Arsenal kehilangan 6 poin potensial. Dengan alasan tersebut, mengalahkan tim rival dalam pertandingan six pointer menjadi amat penting.
Namun kenyataannya tidak seperti hitung-hitungan di atas kertas. Memang six pointer vital bagi rivalitas tim yang setara. Tetapi mengalahkan tim kecil juga tidak kalah penting. Tiga pertandingan setelah MU vs Arsenal, jarak antara MU dan Arsenal yang sempat diperkecil menjadi 5 poin sekarang menjadi 12 poin. Tiga kemenangan Arsenal berturut-turut dan hasil seri-seri-kalah MU membuat kemenangan six pointer MU terhadap Arsenal tersebut dengan cepat dapat dinegasikan dampaknya. Itu karena MU tidak mampu meraih angka sempurna di pertandingan lainnya.
Berkat bekal hasil melawan klub-klub “kecil”, Arsenal bisa lebih tenang dalam memasuki pertandingan six pointer melawan rival beratnya, dibanding mereka
Untuk Chelsea dan Manchester City yang relatif lebih konsisten daripada MU, six pointer dengan mereka menjadi penting. Misalnya saat ini selisih poin Chelsea dan Arsenal 4 poin. Jika Arsenal menang selisih menjadi 7 poin, bila kalah menjadi 1 poin. Dengan Man City, menang jadi 9 poin, kalah jadi 3 poin. Dan karena Chelsea dan Man City terus-menerus mendulang poin dari tim kecil, hasil menang melawan mereka menjadi penting. Jika tidak bisa menang, paling tidak seri agar selisih poin tetap terjaga. Sebaliknya bagi mereka, kemenangan melawan Arsenal menjadi target utama bulan ini, seri saja tidak cukup. Berkat bekal hasil melawan klub-klub “kecil”, Arsenal bisa lebih tenang dalam memasuki pertandingan six pointer melawan rival beratnya, dibanding mereka. Arsenal cukup “tidak kalah” sedangkan mereka “mesti menang”. Hal tersebut sudah cukup untuk memposisikan Arsenal di atas angin dalam perburuan “gelar” juara paruh musim ini.
Enam pertandingan lagi di bulan Desember, tak ada yang bisa kita perbuat sebagai fans kecuali menonton pertandingan, mendukung penuh tim dan percaya kepada nyanyian klasik yang sudah berusia belasan tahun ini:
One Arsène Wenger, there’s only one Arsène Wenger…




0 komentar:
Posting Komentar